Beda Cara Berpikir Orang Kaya dan Orang Miskin

Anjrah University – Ada paparan menarik mengenai beda cara berpikir orang kaya dengan orang miskin. Beda setting pikir berakhir pada beda pula hasilnya di kemudian hari. Teman teman bisa menyaksikan dalam paparan berikut ini:

Just completed the "focus" of my upcoming book that will hit the NY Times best sellers list (already training and masterminding with the best when it comes to this)

(please note before you read this I will have very good editors and I did not spell check this =p)

Every wealthy person I have ever met knows different "things" but they almost all think and adopt the same base mindsets. They also all do very similar things, and deeper they are in these mindsets and actions the richer they are in physical cash and also happiness.

Continue reading Beda Cara Berpikir Orang Kaya dan Orang Miskin

Empat Tips Cerdas Membersihkan Layar Laptop

  1. Jangan membersihkan layar laptop kamu dengan bahan pelarut seperti amonia atau alkohol, atau cairan lain yang mengandung zat tersebut. berbeda dengan kaca, LCD monitor harus dibersihkan dengan kain lembut kering.
  2. Jangan juga menggunakan air keran atau air ledeng untuk membersihkan layar LCD kamu, karena air tersebut mengandung mineral yang dapat merusak dan meninggalkan noda permanen pada layar.
  3. Jika kamu menggunakan cairan khusus untuk membersihkan layar LCD, jangan menyemprotkan langsung ke layarnya, semprotkan cairan ke kain lembut terlebih dahulu, lalu usapkan perlahan ke permukaan layar serta pastikan layar kamu bebas debu dan partikel, karena jia tidak, layar bisa tergores oleh debu.
  4. Gunakan kain microfiber atau gunakan tisu lensa kamera / kacamata untuk membersihkan layar laptop kamu.

Tips Memelihara Bulu Kucing

1. Berilah makanan dengan asupan gizi yang seimbang, perhatikan kualitas dan kuantitas makanannya. jika kucing kekurangan Vitamin dan asam amino, akan menyebabkan bulu kucing menjadi kusam dan menyebabkan kerontokan.
2. Sisirlah bulu kucing secara rutin, misalnya sehari satu kali. dengan begini berarti kamu melakukan terapi kepada kulit kucing sehingga melancarkan peredaran darah dibawah kulit kucing tersebut.
3. caranya? pertama, sisir bulu kucing dengan berlawanan arah alur bulunya. lakukan secara perlahan agar tidak menyakiti kulit kucing kamu. lalu baru sisir sesuai alur bulu kicing.
4. Mandikan kucing kamu seminggu sekali atau setiap kucing bermain ditempat yang kotor dan berdebu.
5. lakukan pengendalian kutu dengan membersihkan pojok – pojok rumah yang sering dijadikan kucing kamu sebagai tempat tidur atau bermain, dengan menjauhkan dari kutu, berarti kerontokan bisa lebih mudah diatasi.
6. untuk pencegahan timbulnya kutu pada tubuh kucing, berikan bedak atau shampoo anti kutu setidaknya dua bulan sekali.

 

Tips Memelihara Bulu Kucing semoga bermanfaat ya. Jual Minyak Ikan Salmon

Motivasi Berwirausaha dari Dahlan Iskan

Toko Selimut – Saya pernah melakukan kampanye setahun penuh dengan tema: JAUHI POLITIK dengan subtema KERJA! KERJA! KERJA! Waktu itu, enam tahun lalu, saya ingin mengajak masyarakat agar tidak semua orang tersedot ke magnet politik yang memang lagi "hot" di negara kita.

Ada reformasi, ada kebebasan membentuk partai politik, ada pemilihan presiden langsung dan ada pilkada langsung. Waktu itu saya menangkap gejala terjadinya pembiusan politik kepada masyarakat luas.

Contoh Motivasi Bisnis Dari Dahlan Iskan  Berwirausahalah

Apalagi masyarakat Jawa Timur memang sangat politis. Tokoh-tokoh politik asal Jatim luar biasa dominannya. Akibatnya kedekatan mereka kepada rakyat Jatim juga kental. Buntutnya, daya sedot politik kepada rakyat luar biasa hebat.

Kampanye itu saya maksudkan agar orang ingat bahwa negara ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan politik. Semakin banyak politikus akan semakin ruwet. Semakin besar daya tarik masyarakat pada politik semakin seru pertengkaran politik. Bukan saja antar kekuatan politik, bahkan di internal kelompok-kelompok politik itu sendiri.

Continue reading Motivasi Berwirausaha dari Dahlan Iskan

Hadist Hadist Tata Cara Adzan dan Iqomat dalam Islam

Adzan dan Iqomah merupakan di antara amalan yang utama di dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

“Imam sebagai penjamin dan muadzin (orang yang adzan) sebagai yang diberi amanah, maka Allah memberi petunjuk kepada para imam dan memberi ampunan untuk para muadzin” [1]

Berikut sedikit penjelasan yang berkaitan dengan tata cara adzan dan iqomah.

Pengertian Adzan

Secara bahasa adzan berarti pemberitahuan atau seruan. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat At Taubah Ayat 3:

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ

“dan ini adalah seruan dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia”

Adapun makna adzan secara istilah adalah seruan yang menandai masuknya waktu shalat lima waktu dan dilafazhkan dengan lafazh-lafazh tertentu. [2]

Hukum Adzan

Ulama berselisih pendapat tentang hukum Adzan. Sebagian ulama mengatakan bahwa hukum azan adalah sunnah muakkad, namun pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan hukum adzan adalah fardu kifayah[3]. Akan tetapi perlu diingat, hukum ini hanya berlaku bagi laki-laki. Wanita tidak diwajibkan atau pun disunnahkan untuk melakukan adzan[4].

Continue reading Hadist Hadist Tata Cara Adzan dan Iqomat dalam Islam

Catatan Ide onenetworkdirect.com

Onenetworkdirect. com adalah salah satu market place aneka produk online.
Saya melihat ada produk bagus disana, kayak camtasia, aneka antivirus serta beragam software lainnya.

 

Ide sederhananya, Apply jadi affiliate di sana:

https://aff.onenetworkdirect.com/affiliate_signup.html?super_affiliate_code=CD4&program_id=309

Pilih produk yang bagus,

bikin reviewnya

SEOKAN / intinya marketingkan…

Terus berdoa semoga affiliasinya jalan lancar😀

Mahmudi Fukumoto, Orang Tulungagung yang Jadi Bos Kontraktor di Jepang

Mahmudi yang masih berstatus Warga Negara Indonesia (WNI) ini, sukses berkarier sebagai seorang pengusaha dan CEO perusahaan kontruksi, Keihan Co. Ltd di negeri Sakura tersebut. Ia memulai karirnya sebagai seorang pekerja hotel di Jepang, Mahmudi bekerja sebagai cleaning service. Kemudian ia memutuskan keluar dan masuk di sebuah perusahaan kontruksi karena ingin mengembangkan kemampuan Bahasa Jepangnya. â??Saya ke Jepang. Kerja di Hotel selama 1 tahun. Bagian nyuci toilet. Cleaning service. Terus saya masuk kuli bangunan. Saya digaji berapapun mau. Yang penting diajarin Bahasa Jepang. Selama 1,5 tahun saya bekerja dan belajar kemudian saya keluar,â?? ucap Mahmudi yang hijrah ke Jepang sejak tahun 2001 lalu.

 

Sebelum ke Jepang, pria yang hanya lulusan SMA ini bekerja sebagai karyawan hotel di Bali. Di Bali, ia belajar Bahasa Jepang dengan seorang guru les Bahasa Jepang. â??Karena banyak orang Jepang, Amerika. Saya kursus Bahasa Jepang. Gurunya orang Jepang. Setelah belajar beberapa bulan. Guru saya bilang, kamu bodoh sekali. Akhirnya saya disuruh praktek dengan orang Jepang. Teman guru saya,â?? jelasnya. Akhirnya ia menikahi teman guru lesnya yang merupakan wanita kewarganegaraan Jepang. Setelah menikah, Mahmudi hijrah ke Jepang dan tetap memilih sebagai WNI. Ia pun bercerita mengenai asal usul nama Jepang yang melekat padanya. Mahmudi menjelaskan karena dirinya memiliki usaha dan menjadi pemimpin perusahaan, segala sesuatu akan berjalan lancar ketika dirinya menggunakan nama Jepang. Akhirnya ia memilih nama keluarga sang istri. â??Fukumoto nama dari mertua saya. Saya minta izin pakai nama itu. Karena itu gitu mertua laki-laki saya simpati,â?? tambahnya.

 

Saat ini perusahaan yang dipimpinnya berkembang ke bidang biro perjalan hingga pembuatan mainan anak-anak. Untuk kontruksi, semua karyawannya merupakan warga negara Jepang. Sedang untuk 2 bisnis barunya, ia berusaha menggandeng WNI yang sedang bekerja di Jepang namun memiliki niat dan keinginan menjadi pengusaha. â??Bikin mainan dan travel itu kita berdayakan orang Indonesia,â?? sebutnya. Menurutnya memulai bisnis di Jepang tidak terlalu sulit namun mempertahankan dan memajukan bisnis adalah pekerjaan tersulit. Diakuinya perlu ketekunan dalam berbisnis. â??Saya kuncinya ulet. Suka duka waktu krisis global terasa sekali. Banyak perusahaan gulung tikar, terus ada yang bilang kapan perusahaan saya gulung tikar. Kapan Keihin gulung tikar. Kalau saya gulung tikar. Saya mau kerja apa lagi. Soalnya keahlian saya cuma itu. Waktu ada tsunami. Bagi Jepang bisa jadi musibah tapi berkah juga karena ekonomi ada. Ada kerjaan kontruksi. Pemerintah supply dana,â?? katanya.

Contoh Coment Black List Di WordPress

д
и
ж
Ч
Б
. ,
? ,
[url=
[/url]
thx
sex
byob
nude
loan
debt
poze
bdsm
soma
visa
hotel
paxil
anime
naked
poker
coolhu
cialis
incest
casino
dating
payday
rental
ambien
holdem
cialis
adipex
booker
youtube
myspace
advicer
flowers
finance
freenet
-online
shemale
meridia
cumshot
trading
adderall
gambling
roulette
top-site
mortgage
pharmacy
dutyfree
ownsthis
duty-free
insurance
ringtones
insurance
blackjack
hair-loss
bllogspot
baccarrat
thorcarlson
jrcreations
credit card
macinstruct
hydrocodone
leading-site
slot-machine
carisoprodol
ottawavalleyag
cyclobenzaprine
discreetordering
aceteminophen
augmentation
enhancement
phentermine
doxycycline
citalopram
cephalaxin
vicoprofen
lorazepam
oxycontin
oxycodone
percocet
propecia
tramadol
propecia
percocet
cymbalta
lunestra
fioricet
lesbian
lexapro
valtrex
titties
xenical
meridia
levitra
vicodin
ephedra
lipitor
breast
cyclen
viagra
valium
hqtube
ultram
clomid
cyclen
vioxx
zolus
pussy
porno
xanax
bitch
penis
pills
male
porn
dick
cock
tits
fuck
shit
gay
ass
gdf
gds

Ustad Bukanlah Profesi Apa dan bagaimana sebenarnya?

USTADZ itu BUKAN PROFESI..!!
Sering kita dengar,
“Kok Anda panggil saya ustadz? Saya kan nggak ngajar di pesantren!”,
“Kok panggil saya ustadzah? saya kan nggak ngajar di TPA, ilmu agama Saya juga dikit…!”,
“Jangan panggil saya ustadz lah, nggak enak kedengerannya…!’,
“Wew…ustadzah zaman sekarang gaul-gaul ya…”, “Alaaah, gayanya sok ustadz, padahal kerjaannya….”
Saya yakin Anda juga sering mendengar selintingan dan kalimat-kalimat begitu. Kadang-kadang saya berpikir, memangnya ustadz atau ustadzah itu apaan…? Profesi…?
Jabatan untuk orang-orang yang pake peci dan berjenggot tipis…?
Atau sebuah panggilan untuk orang-orang yang belajar di pesantren dan mengajar di TPA?
Belum lagi imej kalau nama ustadz disebut pasti bisa ngusir jin dan setan…!! Innalillahi wa inna ilaihi rajiun….
Entah siapa yang membuat fenomena itu menjamur di masyarakat, gambaran terhadap ustadz atau ustadzah sepertinya perlu diluruskan. Supaya istilah-istilah “musyawwah” tidak merusak hal-hal positif.

Pertama yang harus kita camkan benar-benar adalah, Islam itu bukan agama individu dan tanggungjawab individu. sekali lagi ISLAM ITU BUKAN AGAMA INDIVIDU dan ISLAM BUKAN TANGGUNG JAWAB INDIVIDU.
Islam tidak mengenal “rijal ad din” atau “orang suci” yang memiliki tempat istimewa dalam agama.
Islam menyamaratakan laki-laki dan perempuan, hanya taqwa yang membedakan derajat mereka.
Islam tidak mengenal Paus, Kardinal atau Pastor, yang memiliki “perlakuan” berbeda dari penganut agama yang lain.
Tanggungjawab atas kelangsungan Islam itu ada di pundak setiap Muslim, meskipun peran mereka berbeda-beda.
Banyak agama hilang dan punah karena ulah pengikutnya. Ada yang merusak dengan sengaja, ada juga yang berfikir bahwa dia menjaga dan memperbaiki, ternyata dia merusak.

Gambaran agama tidak akan jelas, dan sangat rawan salah kalau tidak memenuhi 3 syarat:
1. Memahami agama sebenar-benarnya. Untuk memahami agama sebenar-benarnya, pastinya kita harus merujuk kepada sumbernya yang benar, bukan hanya ikut-ikutan kata orang.
2. Mengimani seluruh ajaran agama itu. Jangan melaksanakan setengah, dan meninggalkan setengah lagi, karena kurang “cocok” dengan keinginan kita.
3. Melaksanakan semua tuntunan dan ajaran agama itu seperti apa adanya, jangan ditambah apalagi dikurangi.

Apabila salah satu dari 3 hal itu tidak terpenuhi, maka yakinlah gambaran agama yang Anda tawarkan akan rusak dan dengan itu Anda telah menzhalimi agama Tuhan,silakan Anda berurusan dengan Tuhan besok di akhirat.
Selain tidak mengenal “rijal ad din”, Islam juga tidak mempunyai ikon atau simbol-simbol tertentu untuk membedakannya dengan manusia lain, kecuali beberapa hal yang disebutkan rasulullah, supaya kita berbeda dengan orang kafir.

Akhir-akhir ini, jenggot, peci, dan yang sejenisnya sudah menjadi trend buat “ustadz”. Entah siapa yang mengatakan ustadz harus punya jenggot dan pakai peci! Memang ini hal sepele, tapi efek yang timbul dari hal sepele itu besar dan membuat kesal…!
Jenggot memang sunnah, artinya Rasulullah menyarankan kita memelihara jenggot, kalau ada ya syukur, dipelihara dan dijaga yang rapi.
Ada sebagian orang memelihara jenggot panjang, tapi amburadul, walah… merusak pandangan..!
Sahabat Ibnu Abbas selalu memelihara jenggotnya sepanjang genggaman jari, selebihnya dipotong.
Peci mantap juga, meskipun bukan wajib, tapi adab dan sopan santun menutup kepala saat shalat menghadap Allah.
Ada satu lagi, memakai siwak.

Memang memakai siwak adalah salah satu sunnah yang paling disukai Rasulullah, bahkan saat-saat terakhir sebelum wafat beliau masih meminta siwak kepada Sayyidah Aisyah.
Ada sebagian orang, saking mengikuti sunnah (menurut dia), dimana-mana dia bersiwak, di jalan, di pasar, bahkan di toko syawarma..! Di tempat orang sedang makan, dia malah nyiwak…!

Ketika ikon dan imej-imej begitu kena pada ustadz, yang mana seharusnya seorang ustadz itu adalah guru yang menjadi teladan, maka apabila ada kesalahan yang dilakukan orang berpeci dan berjenggot, imbasnya ke ustadz, ketika ustadz kena maka Islam juga kena cipratannya.
Adalagi, orang yang merasa dirinya kurang “benar”, dia tidak mau memakai peci dan memelihara jenggot, karena itu fashionnya ustadz…!
Ada lagi, orang-orang yang merasa dirinya “benar” memproklamirkan diri sebagai ustadz. Akhirnya petantang-petenteng sebagai ustadz, padahal nggak tau apa-apa! Akhirnya ustadz beneran rusak karena ustadz gadungan!

Dan banyak lagi ribuan fenomena di masyarakat.
Semua fenomena itu tumbuh kerena kita terlalu memperhatikan hal-hal sepele di luar dan formalitas semata. Akhirnya esensi dari ajaran agama yang seharusnya benar-benar kita pahami kita lupakan.

Esensi agama kita itu saling melengkapi, saling menasehati, kerena pada hakekatnya kita semua dalam perjalanan dengan“bus” yang sama.
Sebut saja ustadz itu sopir atau kondektur, tapi dia tetap bagian dari kita juga.
Memang tugas untuk untuk memberikan “peringatan” untuk sesama dititik beratkan pada sekelompok, seperti firman Allah dalam surat taubat ayat 122:
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang).Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan dari mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali…”.
Allah menyuruh sebagian kita untuk belajar agama, dan menjadi pengajar agama kepada yang lain apabila sudah pulang, tapi ini bukan berarti kita yang lain diam dan menunggu mereka, bukan berarti tanggungjawab dakwah itu hanya tertumpu di pundak mereka, tapi beban dakwah itu di pundak setiap individu Muslim, besar-kecil, pria-wanita, dan tua-muda.

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 110, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran…”.
Dari ayat ini jelas, bahwa kewajiban berdakwah yang dalam halini amar ma’ruf nahi mungkar adalah kewajiban setiap individu, fardhu ‘ain.
Ketika kita menyadari kewajiban itu adalah kewajiban bersama, maka kita tidak akan membedakan antara satu dengan yang lain, baik dia ustadz atau bukan. Kalau ada ustadz atau ustadzah yang salah kita juga tidak akan terlalu histeris, karena memang dia juga manusia yang bisa salah. Jadi, kalau salah, tidak usah“dibesar-besarkan”, tinggal ditegur baik-baik. Termasuk juga akhir-akhir ini kata-kata“ikhwan” dan “akhawat” juga sering menjadi bahan olok-olokan sebagian pihak.
Jadi,ustadz itu bukan nama untuk sebuah profesi, sehingga orang yang membawa gelar“ustadz” atau “ustadza” itu seakan-akan hidup di dunia lain, yang tidak bisa salah, tidak bisa keliru dan selalu benar. Kewajiban saling menasehati dan mengingatkan adalah kewajiban bersama.
Wallahu a’alam
Saief Alemdar, Lc

Sunnah Yang Dianjurkan Ketika Anda Menjadi Imam Shalat Berjamaah

Adab Imam & Makmum dalam Shalat Berjama’ah

(Oleh: Armen Halim Naro)

Seorang muslim yang baik, senantiasa berupaya untuk menyempurnakan setiap amalnya, karena hal itu merupakan bukti keimanannya. Kesempurnaan pelaksanaan shalat berjama’ah merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Persatuan dan kesatuan umat Islam terlihat dari lurus dan rapatnya suatu shaf (dalam shalat berjama’ah), sebagaimana yang disabdakan oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam:

hadits

Hendaklah kalian luruskan shaf kalian,
atau Allâh akan memecah belah persatuan kalian.[1]

Pembahasan ini terbagi menjadi dua bagian. Pertama, Adab-adab Imam dan kedua, Adab-adab Makmum.

Tidak diragukan lagi, bahwa tugas imam merupakan tugas keagamaan yang mulia, yang telah diemban sendiri oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam dan juga Khulafa‘ Ar Rasyidin radhiyallâhu’anhum setelah beliau shallallâhu ‘alaihi wasallam wafat.

Banyak hadits yang menerangkan tentang fadhilah imam. Diantaranya sabda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, “Tiga golongan di atas unggukan misik pada hari kiamat,” kemudian beliau menyebutkan, diantara mereka, (ialah) seseorang yang menjadi imam untuk satu kaum sedangkan mereka (kaum tersebut) suka kepadanya. Pada hadits yang lain disebutkan, bahwa dia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang shalat di belakangnya.[2]

Akan tetapi –dalam hal ini– manusia berada di dua ujung pertentangan. Pertama, menjauhnya para penuntut ilmu dari tugas yang mulia ini, tatkala tidak ada penghalang yang menghalanginya menjadi imam. Dan yang kedua, –sangat disayangkan– masjid pada masa sekarang ini telah sepi dari para imam yang bersih dan berilmu dari kalangan penuntut ilmu dan ahli ilmu –kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allâh Ta’âla–.

Bahkan kebanyakan yang mengambil posisi ini dari golongan orang-orang awam dan orang-orang yang bodoh. Semisal, dalam hal membaca al-Fatihah saja tidak tepat, apalagi menjawab pertanyaan tentang sebuah hukum dalam agama. Mereka tidaklah maju ke depan, kecuali dalam rangka mencari penghasilan.

Secara tidak langsung, –para imam seperti ini– menjauhkan orang-orang yang semestinya layak menempati posisi yang penting ini. Hingga, –sebagaimana yang terjadi di sebagian daerah kaum muslimin– sering kita temui, seorang imam masjid tidak memenuhi kriteria kelayakan syarat-syarat menjadi imam.

Oleh karenanya, tidaklah aneh, kita melihat ada diantara mereka yang mencukur jenggot, memanjangkan kumis, menjulurkan pakaiannya (sampai ke lantai) dengan sombong, atau memakai emas, merokok, mendengarkan musik, atau bermu’amalah dengan riba, menipu dalam bermua`amalah, memberi saham dalam hal yang haram, atau istrinya ber-tabarruj, atau membiarkan anak-anaknya tidak shalat, bahkan kadang-kadang sampai kepada perkara yang lebih parah dari apa yang telah kita sebutkan di atas”. [3]

Berikut ini, akan dijelaskan tentang siapa yang berhak menjadi imam, dan beberapa adab berkaitan dengannya.

Pertama: Menimbang diri, apakah dirinya layak menjadi imam untuk jama’ah, atau ada yang lebih afdhal darinya?

Penilaian ini tentu berdasarkan sudut pandang syari’at. Diantara yang harus menjadi penilaiannya ialah: [4]

Jika seseorang sebagai tamu, maka yang berhak menjadi imam ialah tuan rumah, jika tuan rumah layak menjadi imam.

Penguasa lebih berhak menjadi imam, atau yang mewakilinya. Maka tidaklah boleh maju menjadi imam, kecuali atas izinnya. Begitu juga orang yang ditunjuk oleh penguasa sebagai imam, yang disebut dengan imam rawatib.

Kefasihan dan kealiman dirinya. Maksudnya, jika ada yang lebih fasih dalam membawakan bacaan Al Qur’an dan lebih ‘alim, sebaiknya dia mendahulukan orang tersebut. Hal ini ditegaskan oleh hadits yang diriwayatkan Abi Mas`ud Al Badri radhiyallâhu’anhu.

Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

hadits

Yang (berhak) menjadi imam (suatu) kaum,
ialah yang paling pandai membaca Kitabullah.
Jika mereka dalam bacaan sama,
maka yang lebih mengetahui tentang sunnah.
Jika mereka dalam sunnah sama,
maka yang lebih dahulu hijrah.
Jika mereka dalam hijrah sama,
maka yang lebih dahulu masuk Islam
(dalam riwayat lain: umur).
Dan janganlah seseorang menjadi imam terhadap yang lain
di tempat kekuasaannya (dalam riwayat lain: di rumahnya).
Dan janganlah duduk di tempat duduknya,
kecuali seizinnya.[5]

Seseorang tidak dianjurkan menjadi imam, apabila jama’ah tidak menyukainya. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu radhiyallâhu’anhu disebutkan:

hadits

Tiga golongan yang tidak terangkat shalat mereka
lebih satu jengkal dari kepala mereka:
(Yaitu) seseorang menjadi imam suatu kaum
yang membencinya… [6]

Berkata Shiddiq Hasan Khan rahimahullâh:

”Dhahir hadits yang menerangkan hal ini, bahwa tidak ada perbedaan antara orang-orang yang membenci dari orang-orang yang mulia (ahli ilmu, pent), atau yang lainnya. Maka, dengan adanya unsur kebencian, dapat menjadi udzur bagi yang layak menjadi imam untuk meninggalkannya.

Kebanyakan, kebencian yang timbul –terkhusus pada zaman sekarang ini– berasal dari permasalahan dunia. Jika ada di sana dalil yang mengkhususkan kebencian, karena kebencian (didasarkan, red.) karena Allâh, seperti seseorang membenci orang yang bergelimang maksiat, atau melalaikan kewajiban yang telah dibebankan kepadanya, maka kebencian ini bagaikan kibrit ahmar (ungkapan untuk menunjukkan sesuatu yang sangat langka, pen.). Tidak ada hakikatnya, kecuali pada bilangan tertentu dari hamba Allâh.

(Jika) tidak ada dalil yang mengkhususkan kebencian tersebut, maka yang lebih utama, bagi siapa yang mengetahui, bahwa sekelompok orang membencinya –tanpa sebab atau karena sebab agama– agar tidak menjadi imam untuk mereka, pahala meninggalkannya lebih besar dari pahala melakukannya.[7]

Berkata Ahmad dan Ishaq:

”Jika yang membencinya satu, dua atau tiga, maka tidak mengapa ia shalat bersama mereka, hingga dibenci oleh kebanyakan kaum.”[8]

Kedua: Seseorang yang menjadi imam harus mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat, dari bacaan-bacaan shalat yang shahih, hukum-hukum sujud sahwi dan seterusnya.

Seringkali kita mendapatkan seorang imam memiliki bacaan yang salah, sehingga merubah makna ayat, sebagaimana yang pernah penulis dengar dari sebagian imam yang sedang membawakan surat Al Lumazah, dia mengucapkan ”Allazi jâma‘a mâlaw wa ‘addadah”, dengan memanjangkan “Ja”, sehingga artinya berubah dari arti ‘mengumpulkan’ harta, menjadi ‘menyetubuhi’nya.[9] Na‘uzubillah.

Ketiga: Mentakhfif shalat.

Yaitu mempersingkat shalat demi menjaga keadaan jama’ah dan untuk memudahkannya. Batasan dalam hal ini, ialah mencukupkan shalat dengan hal-hal yang wajib dan yang sunat-sunat saja, atau hanya mencukupkan hal-hal yang penting dan tidak mengejar semua hal-hal yang dianjurkan.[10]

Di antara nash yang menerangkan hal ini, ialah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallâhu’anhu :

hadits

Jika salah seorang kalian shalat bersama manusia,
maka hendaklah (dia) mentakhfif,
karena pada mereka ada yang sakit, lemah dan orang tua.
(Akan tetapi), jika dia shalat sendiri, maka berlamalah sekehendaknya.[11]

Akan tetapi perlu diingat, bahwa takhfif merupakan suatu perkara yang relatif. Tidak ada batasannya menurut syari’at atau adat. Bisa saja menurut sebagian orang pelaksanaan shalatnya terasa panjang, sedangkan menurut yang lain terasa pendek, begitu juga sebaliknya.

Oleh karenanya, hendaklah bagi imam mencontoh yang dilakukan Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, bahwa penambahan ataupun pengurangan yang dilakukan beliau shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam shalat, kembali kepada mashlahat. Semua itu, hendaklah dikembalikan kepada sunnah, bukan pada keinginan imam, dan tidak juga kepada keinginan makmum.[12]

Keempat: Kewajiban imam untuk meluruskan dan merapatkan shaf.

Ketika shaf dilihatnya telah lurus dan rapat, barulah seorang imam bertakbir, sebagaimana Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam mengerjakannya.

Dari Nu‘man bin Basyir radhiyallâhu’anhu berkata:

”Adalah Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam meluruskan shaf kami. Seakan-akan beliau meluruskan anak panah. Sampai beliau melihat, bahwa kami telah memenuhi panggilan beliau. Kemudian, suatu hari beliau keluar (untuk shalat). Beliau berdiri, dan ketika hendak bertakbir, nampak seseorang kelihatan dadanya maju dari shaf. Beliaupun berkata:

hadits

Hendaklah kalian luruskan shaf kalian,
atau Allâh akan memecah-belah persatuan kalian.[13]

Adalah Umar bin Khattab radhiyallâhu’anhu mewakilkan seseorang untuk meluruskan shaf. Beliau tidak akan bertakbir hingga dikabarkan, bahwa shaf telah lurus. Begitu juga Ali dan Utsman melakukannya juga. Ali sering berkata, ”Maju, wahai fulan! Ke belakang, wahai fulan!”[14]

Salah satu kesalahan yang sering terjadi, seorang imam menghadap kiblat dan dia mengucapkan dengan suara lantang, ”Rapat dan luruskan shaf,” kemudian dia langsung bertakbir. Kita tidak tahu, apakah imam tersebut tidak tahu arti rapat dan lurus. Atau rapat dan lurus yang dia maksud berbeda dengan rapat dan lurus yang dipahami oleh semua orang?!

Anas bin Malik radhiyallâhu’anhu berkata:

“Adalah salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki kawannya.” Dalam satu riwayat disebutkan, ”Aku telah melihat salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki temannya. Jika engkau lakukan pada zaman sekarang, niscaya mereka bagaikan keledai liar (tidak suka dengan hal itu, pen).”[15]

Oleh karenanya, Busyair bin Yasar Al Anshari berkata, dari Anas radhiyallâhu’anhu, ”Bahwa ketika beliau datang ke Madinah, dikatakan kepadanya, ’Apa yang engkau ingkari pada mereka semenjak engkau mengenal Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam?’ Beliau menjawab, ’Tidak ada yang aku ingkari dari mereka, kecuali mereka tidak merapatkan shaf’.” [16]

Berkata Syaikh Masyhur bin Hasan hafizhahullah:

”Jika para jama’ah tidak mengerjakan apa yang dikatakan oleh Anas dan Nu‘man radhiyallâhu’anhuma, maka celah-celah tetap ada di shaf. Kenyataanya, jika shaf dirapatkan, tentu shaf dapat diisi oleh dua atau tiga orang lagi. Akan tetapi, jika mereka tidak melakukannya, niscaya mereka akan jatuh ke dalam larangan syari’at. Diantaranya:

Membiarkan celah untuk syetan dan Allâh Ta’âla putuskan perkaranya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallâhu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Luruskanlah shaf kalian, dan luruskanlah pundak-pundak kalian, dan tutuplah celah-celah. Jangan biarkan celah-celah tersebut untuk syetan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allâh akan menyambung (urusan)nya. Barangsiapa yang memutuskan shaf, niscaya Allâh akan memutus (urusan)nya.”[17].

Perpecahan hati dan banyaknya perselisihan diantara jama’ah.

Hilangnya pahala yang besar, sebagaimana diterangkan dalam hadits shahih, diantaranya
sabda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam:

hadits

Sesungguhnya Allâh dan MalaikatNya mendo’akan
orang yang menyambung shaf.[18][19]

Kelima: Meletakkan orang-orang yang telah baligh dan berilmu di belakang imam.

Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam :

hadits

Hendaklah yang mengiringiku
orang-orang yang telah baligh dan berakal,
kemudian orang-orang setelah mereka,
kemudian orang-orang setelah mereka,
dan janganlah kalian berselisih,
niscaya berselisih juga hati kalian,
dan jauhilah oleh kalian suara riuh seperti di pasar.[20]

Keenam: Membuat sutrah (pembatas)[21] ketika hendak shalat.

Hadits yang menerangkan hal ini sangat mashur. Diantaranya hadits Ibnu Umar radhiyallâhu’anhu:

hadits

Janganlah shalat, kecuali dengan menggunakan sutrah (pembatas).
Dan jangan biarkan seseorang lewat di hadapanmu.
Jika dia tidak mau, maka bunuhlah dia,
sesungguhnya bersamanya jin.[22]

Sedangkan dalam shalat berjama’ah, maka kewajiban mengambil sutrah ditanggung oleh imam. Hal ini tidak perselisihan di kalangan para ulama.[23]

Nabi telah menerangkan, bahwa lewat di hadapan orang yang shalat merupakan perbuatan dosa. Beliau shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,

”Jika orang yang lewat di hadapan orang shalat mengetahui apa yang dia peroleh (dari dosa, pen), niscaya (dia) berdiri selama empat puluh, (itu) lebih baik daripada melewati orang yang sedang shalat tersebut.”

Salah seorang rawi hadits bernama Abu Nadhar berkata:

”Aku tidak tahu, apakah (yang dimaksud itu, red.) empat puluh hari atau bulan atau tahun.[24]

Ketujuh: Menasihati jama’ah, agar tidak mendahului imam dalam ruku’ atau sujudnya, karena (seorang) imam dijadikan untuk diikuti.

Imam Ahmad berkata:

”Imam (adalah) orang yang paling layak dalam menasihati orang-orang yang shalat di belakangnya, dan melarang mereka dari mendahuluinya dalam ruku’ atau sujud. Janganlah mereka ruku’ dan sujud serentak (bersamaan) dengan imam. Akan tetapi, hendaklah memerintahkan mereka agar rukuk dan sujud mereka, bangkit dan turun mereka (dilakukan) setelah imam. Dan hendaklah dia berbaik dalam mengajar mereka, karena dia bertanggung jawab kepada mereka dan akan diminta pertanggungjawaban besok. Dan seharusnyalah imam meperbaiki shalatnya, menyempurnakan serta memperkokohnya. Dan hendaklah hal itu menjadi perhatiannya, karena, jika dia mendirikan shalat dengan baik, maka dia pun memperoleh ganjaran yang serupa dengan orang yang shalat di belakangnya. Sebaliknya, dia berdosa seperti dosa mereka, jika dia tidak menyempurnakan shalatnya.”[25]

Kedelapan. Dianjurkan bagi imam, ketika dia ruku’ agar memanjangkan sedikit ruku’nya, manakala merasa ada yang masuk, sehingga (yang masuk itu) dapat memperoleh satu raka’at, selagi tidak memberatkan makmum, karena kehormatan orang-orang yang makmum lebih mulia dari kehormatan orang yang masuk tersebut.

[26]

Demikianlah sebagian adab-adab imam yang dapat kami sampaikan. Insya Allâh, pada edisi mendatang akan kami terangkan adab-adab makmun. Wallahu ‘a‘lam.

[1]
HR Muslim no. 436.

[2]
Kitab Mulakhkhsul Fiqhi, Syaikh Shalih bin Fauzan, halaman 1/149.

[3]
Kitab Akhtha-ul Mushallin, Syaikh Masyhur Hasan Al Salman, halaman 249.

[4]
Ibid, halaman 1/151.

[5]
HR Muslim 2/133. Lihat Irwa‘ Ghalil 2/256-257.

[6]
HR Ibnu Majah no. 971. Berkata Syaikh Khalil Makmun Syikha,”Sanad ini shahih, dan rijalnya tsiqat.” Hadits ini juga diriwayatkan melalui jalan Thalhah, Abdullah bin Amr dan Abu Umamah c . Berkata Shiddiq Hasan Khan,”Dalam bab ini, banyak hadits dari kelompok sahabat saling menguatkan satu sama lain.” (Lihat Ta‘liqatur Radhiyah, halaman 1/336.

[7]
Ta‘liqatur Radhiyah, halaman 1/337-338.

[8]
Lihat Dha‘if Sunan Tirmizi, halaman 39.

[9]
Sebagaimana yang dikisahkan kepada penulis, bahwa seorang imam berdiri setelah raka’at keempat pada shalat ruba‘iah (empat raka‘at). Ketika dia berdiri, maka bertasbihlah para makmun yang berada di belakangnya, sehingga membuat masjid menjadi riuh.
Tasbih makmum malah membuat imam bertambah bingung. Apakah berdiri atau bagaimana!? Setelah lama berdiri, hingga membuat salah seorang makmun menyeletuk,”Raka’atnya bertambaaah, Pak!!” Lihat, bagaimana imam dan makmum tersebut tidak mengetahui tata cara shalat yang benar.

[10]
Shalatul Jama’ah, Syaikh Shalih Ghanim Al Sadlan, halaman 166, Darul Wathan 1414 H.

[11]
HR Bukhari, Fathul Bari, 2/199, no. 703.

[12]
Shalatul Jama’ah, halaman 166-167.

[13]
HR Muslim no. 436.

[14]
Lihat Jami‘ Tirmidzi, 1/439; Muwaththa‘, 1/173 dan Al Umm, 1/233.

[15]
HR Abu Ya‘la dalam Musnad, no. 3720 dan lain-lain, sebagimana dalam Silsilah Shahihah, no. 31.

[16]
HR Bukhari no. 724, sebagaimana dalam kitab Akhtha-ul Mushallin, Syaikh Masyhur Hasan, halaman 207.

[17]
HR Abu Daud dalam Sunan, no. 666, dan lihat Shahih Targhib Wa Tarhib, no. 495.

[18]
HR Ahmad dalam Musnad, 4/269, 285,304 dan yang lainnya. Hadistnya shahih.

[19]
Lihat Akhtha-ul Mushallin, halaman 210-211.

[20]
HR Muslim no. 432 dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih, no. 1572.

[21]
Pembatas yang sah untuk dijadikan sutrah adalah setinggi beban unta, yaitu kira-kira satu hasta. Lihat Akhtha-ul Mushallin, halaman 83.

[22]
HR Muslim no. 260 dan yang lain.

[23]
Fathul Bari, 1/572.

[24]
HR Bukhari 1/584 no. 510 dan Muslim 1/363 no. 507.

[25]
Kitab Shalat, halaman 47-48, nukilan dari kitab Akhtha-ul Mushallin, halaman 254.

[26]
“Al-Mulakhkhashul Fiqhi” Hal. (159)

(Majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun VII)

Sponsored:

Rekomendasi toko belanja muslim mengenai selimut maupun pembelian susu kambing pengganti susu sapi bagi anak maupun dewasa. mampir ke link di bawah ini ya
Jual Selimut Flanel Murah

Jual Susu Kambing Organik Serbuk